Kurikulum menjadi elemen krusial dalam pembukaan Program Studi
Kedokteran, karena darinya ditentukan arah pembelajaran, kompetensi lulusan,
serta kesiapan institusi dalam memenuhi standar nasional pendidikan kedokteran.
Atas dasar itu, Fakultas Kedokteran Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan
Kalijaga Yogyakarta menggelar Sosialisasi Kurikulum Program Studi Kedokteran
pada Sabtu (17/1/2026) di Grand Rohan Yogyakarta, Lantai 9, yang merupakan
bagian dari rangkaian kegiatan Gathering Calon Dosen Fakultas Kedokteran.
Kegiatan yang diikuti oleh sekitar 26 calon dosen ini menjadi
bagian penting dari persiapan visitasi pembukaan Prodi Kedokteran yang
dijadwalkan berlangsung pada 16–17 Februari 2026. Sosialisasi ini bertujuan
menyamakan pemahaman calon dosen, memperkuat kesiapan substansi akademik, serta
membangun narasi kolektif dalam menghadapi asesmen lapangan.
dr. Murtafioh Hasanah, dalam paparannya menegaskan bahwa
kesiapan sumber daya manusia dan kurikulum menjadi kunci utama keberhasilan
pembukaan program studi baru, khususnya di bidang kedokteran yang memiliki
standar tinggi dan regulasi ketat.
“Visitasi bukan sekadar penilaian dokumen, tetapi juga penilaian
kesiapan institusi secara utuh, mulai dari kurikulum, dosen, sarana prasarana,
hingga kesamaan visi seluruh tim,” ujar figur yang akrab disapa dengan dr.
Fika.
Dalam forum tersebut juga disampaikan struktur pengelola
fakultas, tahapan teknis visitasi, serta agenda pendukung yang akan melibatkan
seluruh calon dosen. Selain itu, disampaikan pula rencana magang singkat bagi
dosen dan laboran di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro sebagai bagian
dari penguatan kapasitas jelang visitasi.
Calon Dosen Fakultas Kedokteran lainnya yang bertanggung jawab
dalam akademik, dr. Faradilla, menyampaikan, kurikulum Program Sarjana
Kedokteran UIN Sunan Kalijaga dirancang dengan total 150 SKS yang terbagi ke
dalam lima fase pembelajaran yang disusun dalam bentuk blok. Pada tahun
pertama, mahasiswa difokuskan pada pembelajaran dasar kedokteran, terutama
fisiologi serta pengenalan keterampilan klinik. Tahun kedua diarahkan pada
pemahaman patofisiologi sebagai jembatan antara ilmu dasar dan penyakit.
Memasuki tahun ketiga, pembelajaran mulai berfokus pada pendekatan kuratif yang
disusun berdasarkan siklus hidup manusia. Sementara itu, pada tahun keempat,
mahasiswa menjalani kepaniteraan junior yang diperkaya dengan mata kuliah
elektif yang menekankan etika keislaman dan praktik kedokteran Islam.
Selain kurikulum sarjana, dr. Faradilla juga memaparkan peta
Kurikulum Pendidikan Profesi Dokter, yang meliputi berbagai stase klinik utama
seperti Ilmu Penyakit Dalam, Bedah, Anak, Kebidanan dan Kandungan, hingga
Kedokteran Forensik dan Kesehatan Masyarakat.
Kegiatan ini turut menjadi ajang perkenalan para calon dosen
dari berbagai disiplin ilmu kedokteran dan biomedis. Keberagaman latar belakang
keilmuan tersebut diharapkan memperkuat ekosistem akademik Fakultas Kedokteran
yang sedang dibangun.
Melalui sosialisasi ini, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang
merancang kekhasan Program Studi Kedokteran dengan keunggulan pada pendekatan
preventif dan promotif, khususnya dalam pencegahan penyakit muskuloskeletal
pada lanjut usia, menegaskan komitmennya untuk menghadirkan Program Studi
Kedokteran yang unggul, berlandaskan integrasi ilmu dan keislaman, serta
berorientasi pada pengembangan dokter profesional yang beretika dan
berkeadaban.(humassk)